Twitter
RSS

Playlist

Get a playlist! Standalone player Get Ringtones

Penjual Koran dan Biola Jalanan

Hmm ternyata tanpa disadari sudah banyak sekali pelajaran berharga yang saya dapatkan.
Setiap pergi kampus dan pulang kampus, saya selalu melihat para pedagang kaki lima, pengamen jalanan, dan pengemis.
Satu hal yang saya takjub, seorang penjual koran yang gigih.
Dia selalu ada di kereta ekonomi pertama sekitar pukul 06.25.

Coba anda perhatikan!! Badan yang sungguh kurus itu membawa tumpukan-tumpukan koran. Dia berjalan dari tiap gerbong ke gerbong. Dengan logat yang khas "medianya seribu, tempo, warta kota, non stopnya, mablas". Di samping itu dia juga membawa sebuah kantong platik untuk mengumpulkan botol-botol minum bekas.
Jika saya pulang sore, koran itu telah habis dan bersisa tinggal 2 atau 3 koran saja.
Perhatikan deh. Dia tidak pernah mengeluh sedikit pun. Jika lelah dia akan jongkok dan diam. Sekalipun saya tak pernah mendengar dia berkata "Aduh capek benar"
Sunguh saya tidak pernah mendengar hal itu.

Tidak seperti para pengemis yang kerjanya hanya meminta dan berkata " Saya belum makan 3 hari" dengan cara yang khas dan berbagai trik meminta.
Jika saya boleh menilai. Saya lebih menghargai para pengamen daripada pengemis. Meskipun suaranya sumbang dan tidak enak didengar.
Yang penting mereka masih mau berusaha untuk bekerja.
Saya juga tertarik dengan seorang pengamen yang memainkan biola. Bapak itu bermain dengan seluruh perasaannya. Terkadang dia bermusik seorang diri dan terkadang sang istri mendampinginya. Sama halnya dengan bapak penjual koran tadi. Mereka berdua sama-sama gigih dan tak pernah meneluh sedikit pun, meskipun bapak pemain biola itu buta. Dia tetap dapat memainkan berbagai jenis musik dengan segala keahliannya.

Yang jadi pertanyaan, kenapa para pengemis dan kita semua tidak mencontoh bapak itu. Dia laki-laki yang penuh tanggung jawab. Bagaimanapun keadaannya, dia tetap berusaha untuk mengais rejeki dengan cara yang HALAL.
Tidak seperti kita yang muda-muda ini. Kerjanya hanya bisa mengeluh dan mengeluh.
Merepotkan orang tua dengan segala rengekkan ini itu dan tidak pernah bersyukur kepada ALLAH Swt.
Sungguh memalukan, ternyata bapak itu lebih baik dari kita.
Mungkin terlihat lusuh dan tidak karu-karuan dari luar.
Tapi kita perlu mencontoh kerja kerasnya dan nilailah seseorang itu dari hatinya.

Comments (0)

Poskan Komentar